Jumat, 07 September 2012

 LAGU IWAN FALS YANG HILANG
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan.

Pada awal kariernya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas.

Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi.

Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas negara.

Beberapa konser musiknya pada tahun 1980-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.

Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru.

Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror.Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.

Inilah nomor-nomor lawas milik Iwan fals yang tidak beredar dipasaran:

Demokrasi Nasi (1978), Semar Mendem (1978)
Pola Sederhana (Anak Cendana) (1978)
Mbak Tini (1978)
Siti Sang Bidadari (1978)
Kisah Sapi Malam (1978)
Mince Makelar (1978)
Luka Lama (1984)
Anissa (1986)
Biarkan Indonesia Tanpa Koran (1986)
Oh Indonesia (1992)
Imelda Mardun (1992)
Maumere (1993)
Joned (1993)
Mesin Mesin Pembunuh (1994)
Suara Dari Jalanan (1996)
Demokrasi Otoriter (1996)
Pemandangan (1996)
Jambore Wisata (1996)
Aku Tak Punya Apa-Apa (1997)
Cerita Lama Tiananmen (1998)
Serdadu dan Kutil (1998)
15 Juta (1998)
Mencari Kata Kata (1998)
Malam Sunyi (1999)
Sketsa Setan Yang Bisu (2000)
Indonesiaku (2001)
Kemarau (2003)
Lagu Sedih (2003)
Kembali Ke Masa Lalu (2003)
Harapan Tak Boleh Mati (2004)
Saat Minggu Masih Pagi (2004)
Repot Nasi / Sami Mawon (2005)
Hari Raya Bumi (2007)
Berita Cuaca (2008)

Jumat, 01 Juli 2011

Tokoh Inspirasi dan Kisah Dalam Lagu Iwan Fals


Lagu-lagu Iwan Fals baik karyanya sendiri maupun karya orang lain yang dinyanyikannya banyak menyebutkan nama beberapa tokoh. Tokoh-tokoh tersebut ada yang rekaan dan ada juga yang nyata. Ada yang serius diceritakan sebagai tokoh utama dan ada juga yang hanya numpang lewat hanya sekedar pelengkap.

Beberapa nama tokoh dalam lagu Iwan Fals yang merupakan sebuah imajinasi ternyata cukup dikenal hingga saat ini dan seakan-akan hidup dalam dunia nyata.







Tokoh Tokoh Dalam Lagu Iwan Fals

1. Hitler
Nama ini diucapkan dalam lagu Frustasi yang terdapat dalam album Canda Dalam Nada (1979). Dalam liriknya nama tokoh ini hanya sebagai pelengkap. Iwan Fals sedang berkhayal andai bisa menjadi orang besar seperti Adolf Hitler yang tenar.
Lagu Frustasi sendiri bercerita tentang kegelisahan seorang anak yang keluarganya berantakan.

2. Carter
Nama ini juga terdapat dalam lagu Frustasi yang terdapat dalam album Canda Dalam Nada (1979). Yang dimaksud adalah Jimmy Carter mantan presiden Amerika ke-39 (1977-1981). Dalam liriknya Iwan Fals sedang berkhayal menjadi orang tenar seperti Carter juragan kacang.
Jimmy Carter memang sempat mengurusi perusahaan kacang milik keluarganya.

3. Kecoak Idi Amin

Nama rekaan ini terdapat dalam lagu Dongeng Sebelum Tidur yang terdapat dalam album Canda Dalam Nada (1979). Nama Idi Amin sendiri adalah nama seorang pemimpin diktator militer di Uganda.
Dalam lagu ini Iwan Fals berkelakar bahwa nama tersebut adalah nama anaknya yang paling tua. Namun si anak yang selanjutnya disebut dengan panggilan si Amin diceritakan adalah orang yang selalu berpenampilan mewah, dan kemewahan itu adalah hasil curian. Sayangnya si Amin kebal kerangkeng.
(Nah, sekarang ditahun 2008 ini ada kan si Amin yang baru?. Wakil rakyat yang nyambi jadi maling.)

4. Gareng
Masih dalam lagu Dongeng Sebelum Tidur dari album Canda Dalam Ronda (1979), disini Iwan Fals bercerita bahwa anaknya yang bernama Kecoak Idi Amin itu jalannya seperti Gareng.
Gareng adalah salah satu tokoh pewayangan punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam melangkahkan kaki. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

5. Poppy dan Nancy
Nama rekaan ini ada di lagu Imitasi dari album Canda Dalam Nada (1979). Oleh Iwan Fals nama Poppy dan Nancy disini dikisahkan sebagai wanita bookingan.

Lagu Iwan Fals yang tidak beredar

    Demokrasi Nasi (1978)
    Semar Mendem (1978)
    Pola Sederhana (Anak Cendana)(1978)
    Mbak Tini (1978)
    Siti Sang Bidadari (1978)
    Kisah Sapi Malam (1978)
    Mince Makelar (1978)
    Luka Lama (1984)
    Anissa (1986)
    Biarkan Indonesia Tanpa Koran (1986)
    Oh Indonesia (1992)
    Imelda Mardun (1992)
    Maumere (1993)
    Joned (1993)
    Mesin Mesin Pembunuh (1994)
    Suara Dari Jalanan (1996)
    Demokrasi Otoriter (1996)
    Pemandangan (1996)
    Jambore Wisata (1996)
    Aku Tak Punya Apa-Apa (1997)
    Cerita Lama Tiananmen (1998)
    Serdadu dan Kutil (1998)
    15 Juta (1998)
    Mencari Kata Kata (1998)
    Malam Sunyi (1999)
    Sketsa Setan Yang Bisu (2000)
    Indonesiaku (2001)
    Kemarau (2003)
    Lagu Sedih (2003)
    Kembali Ke Masa Lalu (2003)
    Harapan Tak Boleh Mati (2004)
    Saat Minggu Masih Pagi (2004)
    Repot Nasi / Sami Mawon (2005)
    Hari Raya Bumi (2007)
    Hari Raya Bumi (2007)
    Berita Cuaca (2008)
    Paman Zam
    Kapal Bau Pesing
    Makna Hidup Ini
    Selamat Tinggal Ramadhan
    Nyatakan Saja
    Berputar Putar
    Air dan Batu
    Lagu Pegangan
    Semut Api dan Cacing Kecil
    Kata-Kata
    Pukul Dua Malam
    Penjara
    Belatung
    Nyanyian Sopir
    Bunga Kayu di Beranda
    Aku Bergelora
    Suara Dari Jalanan
Download Semua Lirik Lagu Iwan Fals Yang Tak Beredar format . pdf

Jumat, 15 April 2011

Puisi WS.Rendra

Nama: WS Rendra
Nama Lengkap:Willibrordus Surendra Broto Rendra
Lahir:Solo, 7 Nopember 1935
Agama:Islam
Istri:Ken Zuraida
Pendidikan:
- SMA St. Josef, Solo
- Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
- American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)


 "Selamat Jalan si Burung Merak, semoga ada generasi yang melanjutkan perjuanganmu".

Karya-Karya
Drama:
- Orang-orang di Tikungan Jalan
- SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
- Oedipus Rex
- Kasidah Barzanji
- Perang Troya tidak Akan Meletus
- dll
Sajak/Puisi:
- Jangan Takut Ibu
- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
- Empat Kumpulan Sajak
- Rick dari Corona
- Potret Pembangunan Dalam Puisi
- Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
- Pesan Pencopet kepada Pacarnya
- Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
- Perjuangan Suku Naga
- Blues untuk Bonnie
- Pamphleten van een Dichter
- State of Emergency
- Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
- Mencari Bapak
- Rumpun Alang-alang
- Surat Cinta
- dll

Sajak Orang Lapar


kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

Kamis, 14 Oktober 2010

Sejarah Lagu Indonesia Raya

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni.
Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia mem[p]roklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Indonesia Raya dimainkan pada upacara bendera. Bendera Indonesia dinaikkan dengan khidmat dan gerakan yang diatur sedemikian supaya bendera mencapai puncak tiang bendera ketika lagu berakhir. Upacara bendera utama diadakan setiap tahun pada tanggal 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara ini dipimpin oleh Presiden Indonesia.
Sejarah
Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.
Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

Naskah pada koran Sin Po (1928)
Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Marcia , Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).
Aransemen simfoni Jos Cleber (1950)
Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.
Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)
Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan Addie MS.



Jumat, 01 Oktober 2010

Kantata Takwa

  • Sutradara Eros Djarot
  • Gotot Prakosa Produser Ekapraya Tata Cipta Film
  • Sedco Indonesia Penulis Eros Djarot
  • Gotot Prakosa Pemeran W.S. Rendra
  • Iwan Fals
  • Sawung Jabo
  • Setiawan Djodi
  • Jockie Surjoprajogo
  • Clara Sinta Rendra
  • Bengkel Teater Rendra Musik oleh Kantata Takwa Durasi 72 menit Negara Indonesia
  • Untuk album grup musik Kantata berjudul sama, lihat: Kantata Takwa (album).
Kantata Takwa
Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa yang dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat dengan tema sosial politik dan kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represif saat itu, sehingga pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis.Film ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex dan kemudian dalam berbagai festival film internasional.

Jumat, 24 September 2010

Nasionalisme Cinta Iwan Fals


Category:    Books
Genre:     Other
Author:    dharmo budi suseno
Judul Buku : Nasionalisme Cinta Iwan Fals Lacak Jejak Perjalanan dan Resensi
Lagu-lagu Iwan Fals
Pengarang : Dharmo Budi Suseno
Penerbit : Kreasi Wacana
Ukuran : 15,5 cm X 24 cm
Tebal : 159 Halaman
Cetakan : Kelima, Maret 2007

Buku ini sebenarnya merupakan cetak ulang yang kelima, catakan pertamanya pada bulan September 2004, tiga tahun yang lalu. Kalau dilihat dari berulanganya pencetakan ulang,bahkan sudah memasuki cetakan ke lima, maka bisa disimpulkan bahwa buku ini termasuk “Laris”, entah apa sebabnya.
Kenapa ada nada keraguan pada akhir alenia tadi? Entahlah? Larisnya buku ini mungkin karena sosok Iwan Falsn-ya sendiri, tak lebih dan tak kurang, selebihnya tidak ada yang istimewa. Karena tidak dapat dipungkiri, untuk mencari tulisan-tulisan yang mengungkap sosok sang Maestro hidup ini sangat susah dan dapat dikatakan sangat jarang terutama tulisan yang berbentuk buku. Dan kondisi inipun dapat menjadi pertanyaan selanjutnya. Kenapa begitu sulit menemukan atau mencari seorang penulis handal yang mau menulis Figur yang sudah atidak asing lagi ini. Bahkan dapat dikatakan sangat terkenal ini. Bukan hanya terkenal pada level tertentu, tapi sosok Iwan Fals sudah dikenal di semua kalangan, dari pengamen sampai penyanyi yang termasuk papan atas di negeri ini. Dari pemulung samapai pengusaha besar sekelas Setiawan Djodi. Dari rakyat jelata sampai Presiden. Bahkan begitu terkenalnya samapi sempat dimusuhi penguasa Orde Baru yang sempat berkuasa dinegeri begitu lamanya. Dengan dasar ini, tidakkah ada satu orang dari jutaan warga Indonesia yang mampu menuliskan sosok Iwan Fals dengan cukup baik, obyektif dan berbobot. Tidakkah ada satu percetakan dari sekian banyaknya yang ada di Negeri ini mau mencetak tulisan yang mengangkat Profil Figur ini. Dan kalau dilihat dari segi bisnis pastilah sosok ini begitu punya “Nilai Jual” yang sangat tinggi. Jawabnya tetap satu entahlah.

Senin, 20 September 2010

Virgiawan Listanto ( Iwan Fals )

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961; umur 49 tahun) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca negara.

Senin, 06 September 2010

INDONESIA JAYA


Bangsa kita hampir 65 tahun merdeka. Waktu yang cukup lama, agaknya kita perlu merenungkan kembali arti kemerdekaan, agar kita dapat memaknai kembali ucapan terima kasih secara lebih dalam. Kata ini mudah diucapkan, kedua kata ini sama-sama terdiri dari dua susunan kata; terima kasih, matur nuwun, dalam bahasa jawa, tapi tanggung jawab dari dua susunan kata tersebut amat besar dan dalam sekali. Jadi kalau kita ucapkan terima kasih itu terlalu kecil, dibanding jasa-jasa para pendahulu kita.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Cermin Teladan Kepemimpinan Rasulullah

Cermin Teladan Kepemimpinan Rasulullah

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Rasulullah telah wafat ribuan tahun yang lalu, tetapi pengaruhnya tetap abadi hingga sekarang, tidak lapuk dimakan zaman dan tidak lekang dimakan usia. Rasulullah adalah contoh teladan pemimpin yang baik. Rasulullah saw. memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Rasulullah memimpin penglihatannya, tutur katanya, nafsunya, keinginannya, dan memimpin keluarganya dengan cara terbaik sehingga Beliau mampu memimpin umat dengan cara dan hasil yang terbaik pula.
Penyebab seorang pemimpin tersungkur menjadi hina karena banyak menginginkan kedudukan dan jabatan tetapi tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Seorang pemimpin jatuh karena kesalahannya sendiri dan bukan karena orang lain.

Rabu, 21 Juli 2010

SOEKARNO SANG PENCETUS IDEOLOGI PANCASILA


Pada tanggal 9 April 1945, pemerintah bala tentara Jepang merealisasikan janjinya melalui pembentukan “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” atau badan untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemer-dekaan. Yang menjabat sebagai ketuanya adalah Dr. Radjiman Widyodiningrat dan wakil ketuanya adalah R.P. Suroso. Seluruh anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai berada di Jawa dan Madura, meskipun tugasnya meliputi seluruh Indonesia. Adanya tugas-tugas yang begitu luas karena mengikuti model administrasi kemiliteran bala tentara Jepang. Menurut kemiliteran bala tentara Jepang, perwilayahan di Indonesia terbagi dalam wilayah kekuasaan Angkatan Darat (RIKU-GUN) untuk Jawa dan Sumatera, adapun untuk Indonesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut (KAIGUN).
Pelantikan Badan Penyelidik tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 1945 di Jakarta dengan jumlah personel sebanyak 62 orang, kemudian ditambah 8 orang sehingga berjumlah 68 orang. Tujuan dibentuknya Badan Penyelidik adalah untuk menyelenggarakan pemeriksaan dasar tentang hal-hal yang penting, rancangan-rancangan dan penyelidikan-penyelidikan yang berhubungan dengan usaha mendirikan negara Indonesia.
Lahirya Istilah Pancasila.
Pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, Badan Penyelidik menyelenggarakan persidangan yang sifatnya rahasia. Acara sidang tersebut membahas tentang dasar dan bentuk negara. Dalam persidangan tersebut banyak pidato-pidato yang disampai-kan, namun yang diketahui secara umum hanyalah pidato-pidato ; 1 Dari Mr. M Yamin 2. Dari Mr. Soepomo., dan 3.Dari Ir. Soekarno.

Perjalanan Lahirnya Pacasila



A.Pendahuluan
Pancasila Sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Namun walaupun pancasila saat ini telah dihayati sebagai filsafat hidup bangsa dan dasar negara, yang merupakan perwujudan dari jiwa bangsa,sikap mental,budaya dan karakteristik bangsa, saat ini asal usul dan kapan di keluarkan/disampaikannnya Pancasila masih dijadikan kajian yang menimbulkan banyak sekali penafsiran dan konflik yang belum selesai hingga saat ini.
Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila, dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila..
dari beberapa sumber, setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin, Sukarno, Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.
a. Rumusan I: Muh. Yamin, Mr.
Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muh. Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.

Senin, 05 Juli 2010

Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Kamis, 24 Juni 2010

100 kalimat indah dalam setiap lirik Iwan Fals

Lagu-lagu yang dinyanyikan Iwan Fals baik solo album maupun dinyanyikan
bersama format group banyak memuat lyric yang istimewa,baik ciptaannya sendiri
maupun dari orang lain.Beberapa diantaranya adalah rangkaian kata-kata yang indah dan menjadi kalimat
penuh makna.
Download filenya disini

Jumat, 21 Mei 2010

SELAMAT JALAN PAK GESANG DO'A KAMI MENYERTAIMU

 
Selamat jalan Bapak .Gesang Martohartono kelahiran Jawa Tengah.01 Oktober 1971 karyamu adalah sebuah karya emas untuk negeri ini.Lagu Bengawan Solo(1940) yang kau ciptakan tidak akan lekang dimakan waktu lagumu tetap akan abadi sampai ke negeri Sakura.Satu-satu daun berguguran satu semangatmu tidak akan ikut gugur untuk kami yang ditinggalkan.Satu-satu tunas muda tumbuh kelak menggantikanmu.Selamat jalan Bapak Gesang karyamu abadi untuk anak negeri.

Kamis, 20 Mei 2010

PEMBUKAAN



CELOTEH



SEJENAK KITA UNTUK TIDAK MELUPAKAN PEDOMAN BANGSA KITA INDONESIA
YANG TERKADANG KITA LUPA BEGITU SAJA AKAN ARTI 
BERBANGSA DAN BERNEGARA 
OLEH SEBAB ITU KITA HANYA TAHU BAHWA ITU HANYA UNTUK 
MEREKA YANG MASIH DUDUK DI BANGKU SEKOLAH
NAMUN NYATANNYA MASIH ADA DARI MEREKA YANG TAK PEDULIKANNYA
SUNGGUH SANGAT PRIHATIN BILA GENERASI MUDA TERNYATA 
LUPA AKAN PEDOMAN BANGSA INI,SEMOGA SAJA TIDAK
BEGITU BESAR BANGSA KITA DIMATA DUNIA KEKAYAAN ALAM YANG 
BEGITU MELIMPAH HINGGA SEMPAT NEGERI KITA TERJAJAH 
KINI MODERNISASI MERAMBAH DINEGERI KITA 
DENGAN BERAGAM BENTUK AKANKAH
SUMPAH PEMUDA AKAN SEMAKIN TERKIKIS TENTU TIDAK KITA INGINKAN,MARI KITA ERATKAN SEMBOYAN BINNEKA TUNGGAL IKA.TUNJUKAN 
PADA DUNIA BAHWA SEBENARNYA
KITA MAMPU MEMBAWA BANGSA KITA MENJADI BANGSA YANG MANDIRI DAN SEJAHTERA DI BAWAH PEMIMPIN YANG ARIF DAN BIJAKSANA BANGSA YANG TERHORMATDAN BANGSA YANG BESAR  ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI
JASA-JASA PARA PAHLAWAN
TANAMKAN JIWA NASIONALISME PADA ANAK-ANAK NEGERI JANGAN TANAMKAN KECONGKAKAN DALAM MEMBUNCITKAN ISI PERUT SENDIRI 
SUDAH BOSAN RASANYA KUPING MENDENGAR MEREKA ORANG-ORANG TUA KITA YANG KITA PERCAYA SEBAGAI WAKIL SUARA RAKYAT BERGELUT DAN BERKELEKAR BERPESTA UANG HARAM,INI KAH? YANG NANTI ENGKAU AJARKAN PADA GENERASI BERIKUTNYA JANJI-JANJI MANIS NYATANYA RACUN